Semua orang pernah merasakan kesusahan dalam hidup. Ada yang dikecewakan, dikhianati, gagal meski sudah berusaha sebaik mungkin, ditolak, disalahkan, disalahmengerti, atau diperlakukan tidak adil. Ada pula yang menjadi pribadi pahit setelah mengalami penderitaan. Sikapnya berubah: menarik diri, pemarah, menyebalkan, dan terkesan ingin mempersulit orang lain. Namun, ada juga yang justru menjadi lembut dan sabar. Ia lebih bijak memandang persoalan, peduli, serta tidak cepat marah atau menghakimi. Penderitaan dapat menjadi titik balik yang mendewasakan, tetapi juga bisa menjadi titik kejatuhan. Lalu, apa yang membuatnya berbeda?
Daud pernah merasa tertekan dan sakit hati. Banyak duka dan keluh kesah ia bawa kepada TUHAN. Ia merasa rapuh dan tak berdaya. Lawan serta musuhnya mencela dan berusaha mencelakakannya. Orang-orang yang ia kenal justru meninggalkannya seorang diri. Dalam keadaan demikian, Daud bisa saja menjadi pahit, menyalahkan TUHAN, dan membenci banyak orang. Namun, ia tidak melakukan itu. Ia memilih tetap percaya dan menaruh harap kepada TUHAN.
Youth, sebagaimana Daud yang mencurahkan seluruh luka hatinya kepada Tuhan, akuilah juga segala rasa susah dan sakitmu. Daripada memendam atau menyangkal, pengakuan akan lebih menolong agar kamu dapat mengelola emosi secara sehat. Carilah makna dan pembelajaran dari kesusahan yang kamu alami. Mungkin kamu tidak mengerti alasan semuanya terjadi, tetapi percayalah bahwa Tuhan sedang berkarya. Semoga kamu keluar dari kesusahan bukan sebagai pribadi yang pahit, melainkan sebagai pribadi yang lembut dan sabar.
- Apa yang dilakukan Daud di tengah penderitaannya?
- Apakah kamu membawa penderitaanmu kepada Tuhan sehingga menjadi titik balik atau kamu memendamnya dan menjadi titik jatuh?
Pokok Doa: Percaya kepada Tuhan dan menjadikan penderitaan sebagai titik balik.
