Catherine Cesnik pernah menulis perenungan tentang kematian. Beberapa orang menyambut maut dengan tangan terbuka dan bersyukur kepada Tuhan karena waktu mereka telah tiba. Yang lain memohon agar diberi satu hari lagi karena merasa masih banyak yang harus diselesaikan. Namun, andaikan sebelum melakukan sesuatu kita berhenti sejenak dan memikirkan kematian—tentang penghakiman dan segala hal semacam itu—aku yakin kita akan berusaha sebaik mungkin, agar ketika saat itu tiba kita dapat berkata, “Ambillah aku, Tuhan, tanpa penundaan.”
Umumnya orang memandang hidup sebagai sesuatu yang sangat berharga, sedangkan kematian menakutkan. Namun bagi Paulus, hidup dan mati sama-sama berharga. Ia melihat kematian sebagai keuntungan, karena dengan itu ia dapat meninggalkan kesusahan dunia dan tinggal bersama Kristus. Tinggal bersama Kristus bukanlah hal yang buruk, bahkan jauh lebih baik. Dengan memandang kematian sebagai waktu berjumpa dengan Kristus, Paulus juga memaknai hidup sebagai kesempatan untuk menghasilkan buah, supaya semakin banyak orang percaya serta hidup sehati untuk melakukan apa yang benar dan adil.
Youth, baik Paulus maupun Catherine Cesnik melihat kematian bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai perjumpaan dengan Tuhan. Kesadaran akan kematian dapat menolongmu memaknai hidup sebagai kesempatan melakukan yang terbaik, bukan hidup semaunya tanpa memikirkan konsekuensi, melainkan hidup yang sejalan dengan kehendak Kristus. Mari jalani hidup sebaik-baiknya, sehingga kapan pun Tuhan memanggil, kita dapat berkata, “Ambillah, Tuhan, tanpa penundaan.”
- Bagaimana sikap Paulus terhadap hidup dan kematian?
- Bagaimana kamu menjadikan hidupmu adalah Kristus?
Pokok Doa: Hidup bagi Kristus dan tidak takut akan kematian.
