Dalam sebuah konseling, seorang remaja perempuan mengeluhkan pacarnya yang kerap meminta bukti cinta dengan melakukan hubungan seksual. Ia bersikeras tidak akan melakukannya sampai menikah. Namun, sang pacar mengancam akan memutuskannya jika tidak mendapatkan apa yang ia mau. Pacarnya sering kali mengatakan bahwa ia akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu karena ia mengaku mencintai remaja perempuan tersebut.
Paulus menuliskan dalam 1 Timotius 1:5 sebagai sebuah peringatan bahwa kasih timbul dari hati yang suci. Hati yang suci adalah hati yang tulus mencintai sesama tanpa pilih kasih dan tidak disertai tindakan yang merugikan orang lain. Dalam kasus di atas, apa yang diminta oleh pacarnya bukan berasal dari hati yang suci. Justru hawa nafsu yang menguasai, bukan cinta sejati. Sebab kita tahu, cinta yang tulus lahir dari hati yang murni dan iman yang ikhlas. Dalam kasih seperti itulah relasi yang dibangun akan saling menguatkan, mendukung, dan bertumbuh bersama di dalam Tuhan.
Teens, jika kamu berada dalam situasi relasi yang toxic, maka sudah saatnya kamu mengakhiri hubungan tersebut. Sebab, hubungan seperti itu dapat merugikan bahkan sangat berbahaya bagimu. Jika kamu sedang berada dalam relasi demikian, tetaplah pertahankan cinta kasih yang tulus dalam hatimu yang terdalam. Cinta sejati itu membangun, bukan merusak atau merugikan salah satu pihak. Cinta itu saling menjaga dan menghormati satu sama lain. Seksualitas dan cinta memang saling berkaitan, tetapi jika seksualitas terjadi tanpa cinta sejati, maka itu hanyalah hawa nafsu yang menjeratmu. Oleh sebab itu, hiduplah dalam cinta kasih yang telah Tuhan teladankan bagi kita. Dalam cinta sejati ada pengorbanan agar yang lain menjadi lebih baik, bukan rusak dan malu.
