Dalam sebuah kegiatan retret remaja, seorang peserta mengajukan pertanyaan ini: “Bolehkah kalau pacaran pegang-pegang atau ciuman?” Pertanyaan itu langsung disambut dengan teriakan dan tawa teman-temannya. Dalam hidup, kita sering kali diperhadapkan dengan pertanyaan seperti ini: “Bolehkah ini?” atau “Bolehkah itu?” Apa standar boleh atau tidak boleh? Mengapa itu boleh? Mengapa ini tidak boleh?
Paulus juga menghadapi situasi yang sama ketika berada di Korintus. Ia ditanya apakah boleh makan makanan sisa persembahan berhala. Secara prinsip, kita yang telah dimerdekakan oleh Kristus memang bebas melakukan apa pun. Namun, kebebasan kita perlu mempertimbangkan beberapa hal agar tidak menjadi batu sandungan bagi sesama maupun bagi diri kita sendiri. Paulus memberikan beberapa pertimbangan dalam bacaan hari ini. Pertama, apakah yang dilakukan itu berguna? Kedua, apakah yang dilakukan itu membangun iman? Ketiga, apakah yang dilakukan itu menjadi berkat bagi orang lain? Keempat, apakah kita mengucap syukur atasnya? Kelima, apakah hal itu memuliakan Tuhan? Jika tidak, untuk apa melakukannya? Untuk apa menghabiskan tenaga untuk sesuatu yang tidak berguna dan tidak menolong kita bertumbuh dalam iman?
Teens, kembali ke pertanyaan teman kita di retret tentang boleh atau tidak berciuman saat pacaran. Untuk menjawabnya, pertimbangkanlah: apakah ada gunanya? Apakah membangun iman? Apakah memuliakan Tuhan? Jika tidak, jangan lakukan. Sebab godaan seksualitas itu selalu berbahaya. Awalnya minta cium, besok- besok kamu minta yang lain. Lebih baik jalani dulu masa pengenalan dengan saling membangun dan mendukung dalam kemajuan iman bersama. Jangan pakai “drama Korea” sebagai standar pacaranmu. Pakailah standar iman dan kasih Tuhan dalam menjalin relasi dengan siapa pun.
