Banyak orang menganggap keselamatan bersifat transaksional. Maksudnya, untuk mendapatkan keselamatan, seseorang harus memenuhi syarat- syarat tertentu, seperti melakukan kebaikan atau beribadah. Pemikiran seperti ini membuat banyak orang berupaya untuk memenuhi berbagai kewajiban agama demi mendapatkan keselamatan. Keselamatan kemudian dipandang sebagai sebuah pencapaian iman pribadi. Karena merasa sudah memenuhi kewajiban, mereka lalu menuntut haknya kepada Tuhan. Mereka berpikir, karena sudah beribadah, melayani, bahkan memberi persembahan yang banyak, mereka pantas mendapatkan berkat yang berlimpah-limpah dan tidak mengalami masalah dalam hidup.
Pemikiran iman yang bersifat transaksional seperti digambarkan di atas ditolak oleh Rasul Paulus, seperti dicatat dalam Roma 3:21–31. Di dalam suratnya itu, Paulus menegaskan bahwa keselamatan hanya berasal dari anugerah Allah melalui iman kepada Yesus Kristus. Walaupun manusia berupaya untuk mendapatkan keselamatan dengan melakukan hukum Taurat, tetap akan sia-sia tanpa anugerah dari Allah. Anugerah Allah melalui Yesus Kristus membuat keselamatan itu dapat dinikmati oleh semua orang.
Youth, seseorang yang beriman kepada Yesus Kristus akan melakukan kebaikan dan beribadah bukan untuk mendapatkan keselamatan, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab iman sebagai orang yang sudah menerima keselamatan. Iman kepada Yesus Kristus bukanlah syarat transaksi untuk mendapatkan keselamatan, melainkan sebuah sikap penerimaan terhadap anugerah keselamatan dari Allah.
-
- Mengapa Paulus menegaskan bahwa keselamatan hanya didapatkan melalui iman kepada Yesus Kristus?
- Jika kita sudah mendapatkan anugerah keselamatan, apakah kita perlu beribadah dan melakukan kebaikan?
Pokok Doa: Kesetiaan menjalankan tanggung jawab iman dalam kehidupan sehari-hari.
