Teens, pernahkah kamu datang ke gereja hanya karena disuruh oleh orang tuamu? Atau melakukan kegiatan pelayanan, doa, dan peribadahan karena terpaksa? Mungkin kita tidak merasakan secara langsung dampaknya. Namun, jika kita tidak sungguh-sungguh dalam melakukan kegiatan peribadahan dan hanya melakukannya karena “terpaksa”, maka lama-kelamaan kegiatan itu tidak lagi menumbuhkan iman kita. Bahkan, bisa jadi akhirnya kita terjebak dalam rutinitas dan memandang peribadahan hanya sebatas ritual belaka tanpa makna.
Itulah yang dialami oleh orang-orang Yahudi dalam konteks Matius 15:1–20. Banyak orang mengaku saleh dengan rajin beribadah dan taat pada aturan agama. Namun, kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari, peribadahan mereka tidak memberi dampak baik sesuai kehendak Allah. Akhirnya, peribadahan mereka menjadi sekadar ritual belaka yang rutin dilakukan. Aturan yang mereka jalankan pun hanya sebatas aturan tertulis tanpa penghayatan yang benar. Inilah yang dikomentari oleh Tuhan Yesus ketika menanggapi orang Farisi dan ahli Taurat yang mempermasalahkan murid-murid-Nya yang makan tanpa membasuh tangan. Menurut Tuhan Yesus, apa yang ada di dalam diri seseorang lebih penting daripada apa yang tampak di luar. Hati yang tulus lebih penting daripada ritual semata.
Teens, penting bagi kita untuk melihat ke kedalaman hati dalam menghayati peribadahan dan pelayanan yang kita lakukan. Jangan sampai kita terjebak dalam rutinitas dan ritual belaka. Biarlah peribadahan dan pelayanan kita sungguh-sungguh memberi dampak yang baik dan menumbuhkan iman percaya kita kepada Tuhan. Kiranya apa yang kita lakukan dalam peribadahan, doa, persekutuan, dan pelayanan benar-benar dilakukan dengan penuh tanggung jawab, penghayatan, dan ketulusan, bukan sekadar ritual belaka.
