Doni ingin sekali mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian. Ia bertekad untuk belajar dan berdoa agar nilai ujiannya menjadi baik. Namun, ketika belajar, Doni lebih sering melihat handphone dan media sosialnya daripada serius mengerjakan soal-soal latihan. Ia menjadi tidak fokus dan sering tergoda melakukan hal lain ketimbang belajar dengan sungguh-sungguh. Hingga akhirnya, dalam ujian Doni tidak bisa mengerjakan soal dengan baik. Ia merasa menyesal karena tidak fokus sehingga nilainya menurun dan tidak sesuai dengan harapannya.
Petrus juga memiliki keinginan. Ia ingin menghampiri Tuhan Yesus yang berjalan di atas air menuju perahu mereka. Petrus ingin merasakan karya Tuhan dalam hidupnya, dan dipakai Tuhan sehingga dapat menyatakan karya yang sama, yakni berjalan di atas air. Namun, ketika mendapatkan kesempatan, Petrus kehilangan fokus. Ia malah bimbang karena merasakan tiupan angin di kulitnya. Hingga akhirnya, ia menjadi ragu dan takut. Petrus pun jatuh dan tenggelam karena ketidakpercayaannya kepada Tuhan. Namun, pada saat yang sama, Tuhan mengulurkan tangan-Nya kepada Petrus hingga ia diangkat dan diselamatkan.
Sama halnya seperti Petrus, kita pun sering kali tidak fokus dalam proses yang kita jalani, entah dalam belajar, berpelayanan, atau dalam hal lainnya. Perhatian kita mudah sekali teralihkan oleh hal-hal yang berada di luar tujuan kita, sehingga kita gagal fokus dan akhirnya tidak mencapai tujuan. Dari kisah ini kita belajar untuk mengerjakan setiap proses dengan lebih fokus, tidak mudah teralihkan oleh godaan, serta senantiasa mengandalkan Tuhan dalam mengerjakan tanggung jawab yang ada. Kita yakin, sebagaimana Tuhan menolong dan menyertai Petrus, Tuhan pun akan memimpin dan menyertai kita.
