Tidak sedikit gereja masa kini yang menggunakan teknik pemasaran atau teknik profesional lainnya dalam pelayanan gerejawi. Tentu saja, ini adalah hal yang baik untuk meningkatkan performa gereja dan para pelayan gerejawi dalam melayani umat. Namun, hal yang tidak boleh dilupakan oleh gereja adalah pimpinan dan kuasa Roh Kudus. Tidak jarang seorang pendeta atau pelayan gerejawi lainnya begitu sibuk mengurusi berbagai hal teknis dalam pelayanan, tetapi ia sendiri tidak merasakan perjumpaan dengan Allah.
Paulus tidak menggunakan tolok ukur profesional dalam pekabaran Injil dan pelayanannya, tetapi ia menggantungkan pelayanannya pada kekuatan yang berasal dari Roh Kudus. Tanpa pimpinan dan kuasa Roh Kudus, seorang pelayan gerejawi hanya menjadi penyelenggara acara atau kru dari sebuah ibadah atau pelayanan. Pemusik ibadah, misalnya, sering terlihat lebih sibuk mempersiapkan lagu berikutnya dan akhirnya tidak menghayati rangkaian ibadah. Karena itulah, setiap pelayan gerejawi perlu memiliki spiritualitas yang sehat. Salah satu ciri spiritualitas yang sehat adalah tidak mengandalkan kemampuan dan kekuatan diri sendiri, melainkan mengandalkan kekuatan yang berasal dari Roh Kudus.
Youth, tuntunan Roh Kudus sering kali tidak sama dengan tolok ukur yang digunakan oleh dunia ini. Oleh karena itulah, gereja dan pelayan gerejawi tidak boleh terjebak oleh tolok ukur duniawi dalam pelayanan. Tanpa tuntunan Roh Kudus, gereja dapat berubah menjadi perusahaan, dan para pelayan gerejawi akan menjadi karyawan. Waspadalah!
- Bagi Paulus manakah yang lebih penting, profesionalitas dalam pelayanan atau tuntunan Roh Kudus?
- Apakah gereja perlu menggunakan teknik profesional dalam melakukan pelayanannya?
