Dalam sebuah lagu yang berjudul “Takut”, Brigita Meliala (Idgitaf) mengungkapkan berbagai rasa takut: takut ketika bertambah dewasa, takut (Mazmur 112:1) kecewa, takut pada masa depan. Banyak orang memandang rasa takut secara negatif, sehingga cenderung menghindarinya, bahkan terkadang tidak mengakuinya karena dianggap sebagai tanda kelemahan.
Dalam Mazmur 112:1–9, rasa takut justru dihidupi dan dianggap membahagiakan, yaitu takut akan TUHAN. Sebab, takut akan TUHAN berarti memiliki rasa kagum dan hormat kepada-Nya. Ungkapan “takut akan TUHAN” dalam bahasa Ibrani adalah yir’at Adonai . Kata yir’at bukan berarti kengerian, melainkan takut dalam pengertian rasa kagum dan hormat yang menimbulkan ketaatan. Dengan demikian, orang yang takut akan TUHAN berarti orang yang benar di hadapan TUHAN. Karenanya, orang yang takut akan TUHAN sudah sepantasnya berbahagia karena TUHAN berkenan kepadanya. TUHAN akan menuntun hidupnya sehingga tidak akan goyah menghadapi berbagai terpaan masalah hidup.
Youth, kita mungkin merasa takut menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Namun, kita tidak perlu goyah selama kita hidup dengan takut akan Tuhan. Sebab, rasa takut akan Tuhan justru akan mengenyahkan ketakutan kita terhadap masalah duniawi. Hiduplah dengan takut akan Tuhan. Artinya, hidup dengan selalu mengandalkan Tuhan, termasuk ketika menghadapi berbagai masalah dan pergumulan. Dengan takut akan Tuhan, kita akan memiliki keyakinan dan kekuatan yang berasal dari Tuhan yang kita kagumi dan hormati itu, sehingga kita tidak perlu merasa takut menghadapi berbagai pergumulan.
- Bagaimana pemazmur menggambarkan rasa takut akan Tuhan?
- Sudahkah kita mengandalkan Tuhan ketika menghadapi ketakutan atau kecemasan?
