Di masa kini, hidup kita semakin terasa seperti sebuah remote control yang dikendalikan oleh banyak orang: orang tua ingin kita menjadi A, teman-teman berharap kita menjadi B, sedangkan algoritma media sosial membuat kita ingin menjadi C. Tanpa sadar, kita pun tidak tahu lagi siapa diri kita dan ke mana arah hidup kita. Kita menjadi bingung. Paulus juga pernah mengalami pergumulan
yang sama. Dalam Galatia 1:11–24 tertulis bahwa Paulus dibesarkan dalam pendidikan Yahudi yang ketat, dipuji karena prestasinya dalam hukum Taurat, dan menjadi orang yang sangat dihormati dalam komunitasnya. Namun, ternyata hidupnya dikendalikan oleh keinginan untuk menyenangkan sistem dan tradisi, mendapatkan pengakuan, dan mempertahankan reputasi. Ia rela menjadi penganiaya pengikut Yesus demi mempertahankan apa yang dianggapnya benar. Namun, semuanya berubah ketika Yesus menjumpai dirinya. Paulus sadar bahwa selama ini ia hidup untuk menyenangkan manusia, bukan Tuhan. Dari seorang penganiaya, Paulus pun menjadi seorang rasul yang mengabarkan Injil di seluruh wilayah Yunani dan Eropa.
Youth, ketika Tuhan menjumpai Paulus, segalanya berubah. Tujuan hidup Paulus tidak lagi untuk mengejar popularitas atau pengakuan dari manusia. Ia diubahkan karena hidupnya tidak lagi dikendalikan oleh keinginan orang lain. Ia kini bertumbuh dalam pengenalan akan Tuhan. Ia pun dipakai Allah untuk melayani. Ini mengajarkan kepada kita bahwa ketika Tuhan yang memegang kendali, hidup kita menjadi kesaksian.
- Bagaimana Paulus dikenal sebelum menjadi rasul?
- Apa yang saat ini paling mengontrol hidup kita?
