Bonhoeffer adalah seorang pendeta dan teolog Jerman yang hidup pada masa pemerintahan Nazi. Ia dikenal sebagai seorang yang menentang Hitler dan ideologi Nazi. Ia pun ikut dalam gerakan bawah tanah untuk menentang Hitler. Karena
keberaniannya, Bonhoeffer dipenjara dan dihukum mati. Selama di penjara, ia menulis banyak surat yang berisi pengharapan dan kepercayaan kepada Allah, sekalipun ia tahu hidupnya akan berakhir.
Dalam salah satu suratnya, ia menulis: “Aku percaya bahwa Allah dapat dan akan membawa kebaikan dari segala sesuatu, bahkan dari kejahatan yang paling buruk sekalipun.”
Bukan hanya Bonhoeffer, Daud pun, ketika ia hidup di bawah tekanan, tetap memiliki pengharapan. Ketidakberdayaan tidak membuat Daud kehilangan imannya. Di tengah pergumulannya, Daud mengingat kesetiaan TUHAN yang pernah dialaminya. Inilah yang menjadi kekuatan bagi Daud untuk tetap percaya pada kebesaran TUHAN. Menariknya, Daud tetap menunjukkan bagian dirinya yang takut. Dengan jujur, ia mengakui kewalahan karena dikejar oleh rasa bersalah. Daud menunjukkan bahwa kepercayaan tidak hanya datang ketika situasi membaik, tetapi juga ketika tidak berdaya, ada keyakinan bahwa TUHAN hadir.
Youth, terkadang kita merasa harus selalu menunjukkan diri yang kuat. Tapi kenyataannya, kita tidak selalu mampu. Bonhoeffer dan Daud menunjukkan kekuatan yang berbeda, yakni dengan jujur mencurahkan hati mereka kepada Tuhan. Sebab, Tuhan tidak pernah menolak hati yang remuk. Karena itu, ketika kita merasa tidak berdaya, jangan menjauh dari Tuhan. Datanglah dengan kejujuran karena di sanalah kekuatan Allah semakin nyata dirasakan.
- Apa yang dapat kita pelajari dari cara Daud mengakui kelemahannya kepada Allah?
- Apa yang membuat kita tidak dapat mengakui kelemahan kita?
