Clara merasa hidupnya penuh distraksi. Setiap bangun tidur, hal pertama yang dilihatnya adalah Instagram dan TikTok. Suatu hari, saat mengikuti retret rohani, ada tantangan: berpuasa dari media sosial selama tiga hari dan menggunakan waktunya untuk berdoa serta membaca Alkitab. Awalnya terasa berat, tetapi Clara mencobanya. Ia mengganti waktu scrolling dengan membaca Mazmur dan menuliskan isi hatinya kepada Tuhan. Pada hari ketiga, Clara merasakan damai yang berbeda. Ia menyadari
bahwa selama ini pikirannya terlalu dipenuhi dunia luar hingga sulit mendengar suara Tuhan. Puasa itu membuatnya lebih peka, lebih tenang, dan lebih dekat dengan Allah.
Dalam Matius 6:16–18, Yesus mengajarkan bahwa puasa bukan soal tampak menderita di depan orang, melainkan soal sikap hati yang mencari Tuhan. Orang Farisi dahulu suka menunjukkan bahwa mereka sedang berpuasa agar dianggap rohani. Namun, Yesus menegaskan bahwa puasa yang sejati adalah yang tersembunyi dari pandangan manusia dan dilakukan dengan sukacita. Bukan demi pujian, melainkan demi mendekat kepada Tuhan dan menundukkan keinginan daging. Puasa sejati memperkuat hubungan dengan Allah dan mengarahkan fokus kita kepada-Nya.
Teens, berpuasa bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi juga melapangkan hati bagi Tuhan. Lakukanlah puasa yang relevan dengan hidupmu. Belajarlah mengendalikan diri, bukan hanya dari makanan, tetapi juga dari media sosial, games, atau hal lain yang menyita perhatian dari Tuhan. Isi waktu puasamu dengan hal rohani, seperti berdoa, membaca Alkitab, merenung, atau menulis jurnal rohani. Jangan memamerkan puasamu, sebab puasa adalah urusan pribadi antara kamu dan Tuhan. Puasa melatihmu untuk mengendalikan diri dan memberi ruang bagi suara Tuhan. Di situlah letak kepuasan sejati dalam puasa, yaitu hidup lebih dekat dengan Sang Sumber Damai.
