Usia muda kerap dianggap sebagai usia yang belum matang dan minim pengalaman. Padahal, dalam perspektif pedagogis, pengalaman dapat diperoleh dengan cara yang berbeda, misalnya melalui proses literasi. Kematangan juga bukan perkara usia, melainkan soal kemampuan mengelola situasi.
Sebagai “anak rohani” Paulus, Titus adalah rasul yang relatif muda. Namun, ia dapat menjadi teladan iman pada usia mudanya. Titus dipercaya menjadi pemimpin jemaat Kristus di Pulau Kreta. Sebagai gereja perdana, tantangan di jemaat Kreta tidaklah sederhana. Di sana, Titus berjumpa dengan anggota jemaat yang mampu berpikir kritis karena sebagian besar telah melek huruf. Di sisi lain, muncul berbagai ajaran yang menyimpang, bahkan menyesatkan. Sejumlah orang Kristen Yahudi di Kreta mengajarkan bahwa setiap laki-laki harus disunat seperti aturan dalam Taurat. Beredar pula banyak tulisan tentang tokoh-tokoh yang ada dalam silsilah Kitab Kejadian, tetapi dengan kisah yang dibesar-besarkan. Bahkan, muncul tulisan kelompok Gnostik yang mengaku mengetahui secara khusus tentang Allah dan alam semesta, yang berbeda dengan ajaran para rasul. Dalam seluruh kompleksitas persoalan di tengah jemaat Kreta itulah Titus yang masih muda diutus untuk menjadi pemimpin. Paulus percaya pada kapasitas dan iman Titus. Titus terus didorong untuk hidup sebagai teladan.
Masa muda adalah kesempatan besar yang Tuhan anugerahkan kepada kita untuk membangun karakter, beriman teguh, serta menjadi teladan. Sikap bijak, sabar, jujur, dan setia tidak bergantung pada usia, melainkan pada hikmat.
- Mengapa Paulus yakin Titus mampu memimpin jemaat Tuhan di usia muda?
- Stereotype apa tentang anak muda di hidupmu yang ingin kamu luruhkan?
Pokok Doa: Dimampukan Roh Kudus untuk hidup menjadi teladan di usia muda.
